Yang tak Pernah Baik-baik Saja Tanpa Kamu
10:55 PMDua hari yang lalu, kamu tiba-tiba menghubungi saya kembali. Ah, masih ingat kamu sama saya? Saya pikir kamu sudah menghapus kontak saya, atau bahkan sudah bertemu dengan yang baru di tempat antah berantah yang kamu singgahi. Entahlah, saya nggak ngerti, yang jelas kamu bilang kamu ingin bertemu saya di kafe favorite kita dulu. Dan bodohnya saya mau.
Satu jam menunggu, batang hidungmu belum juga muncul di hadapan saya. Bodohnya lagi, saya masih betah menunggu kamu di sini. Hingga akhirnya kamu tiba. Kedatanganmu menyulut atensi saya kala itu, penampilanmu yang masih begitu-begitu saja dari enam bulan yang lalu, hanya saja rambutmu sudah sedikit memanjang. Agaknya kamu begitu malas untuk memotongnya. Kamu ingat, dulu kamu selalu bilang kamu tak bisa hidup tanpa saya, tapi nyatanya apa, kamu hadir dengan keadaan baik-baik saja di hadapan saya. Sialan, ini saya yang bodoh atau kamu yang bohong, karena dulu saya begitu percaya dengan ucapanmu.
Kamu lantas duduk di hadapan saya, sejurus kemudian tatapan hangatmu tertangkap netra saya. Dan tiba-tiba kamu bilang “Saya rindu kamu.”
Kamu bilang kamu rindu saya, tapi kemana saja kamu saat saya mati-matian melupakanmu.
Kamu bilang kamu rindu saya, tapi di mana kamu saat saya dengan sulitnya berusaha untuk tidak bangun pukul dua pagi hanya untuk menangisi makhluk macam dirimu.
Kamu bilang kamu rindu saya, tapi kenapa kamu seolah menarik diri dari saya? Kenapa harus pergi kalau ujung-ujungnya datang dan bilang rindu?
Keparat.
Saya hanya bergeming saat kamu berkata seperti itu. Karena banyak sekali kata yang menyeruak meminta untuk disuarakan. Tapi yang harus kamu tau, saya tak pernah baik-baik saja tanpa kamu.
-Athenalrst-
0 comments