Pada pagi yang agak cerah, sedikit mendung
9:26 AM
Teruntuk kamu yang sedang baik-baik saja tanpaku,
Inikah sinyal dari Tuhan bahwa kita benar-benar takkan menyatu?
Teruntuk kamu yang sedang bahagia menyakitiku,
Benarkah takkan adalagi satu waktu untuk kita memperbaiki keping-keping hati yang telah hancur berantakan?
Teruntuk kamu yang tidurnya pulas tanpa ucapan selamat tidur dariku,
mungkinkah ada yang salah dengan hubungan yang mati-matian kita perjuangkan bersama? Kita? ah, tidak.Hanya aku yang berjuang.
Teruntuk kamu yang biasa-biasa saja mendapat chat dariku,
Apakah ini ujung dari perasaan yang telah menikung tajam dan terbanting menabrak dan meluluh-lantahkan segalanya?
Teruntuk kamu yang hanya ingin di
perjuangkan tanpa ingin memperjuangkan,
Tidakkah kau rasa, seorang perempuan sedang mati-matian membunuh perasaannya padamu hingga dia pagi ini tengah berada di titik terendah dalam hidupnya?
Teruntuk kamu yang sedang bernafas tanpa rasa bersalah,
Apakah kamu tengah menunggu aku untuk undur diri dalam keterlibatan permainan konyolmu itu?
Teruntuk kamu yang sedang mengisap sepuntuk rokok pagi ini,
Mengapa kau tak datang menemuiku dan menjelaskan jika rasamu telah mati untukku?
Sudahlah, tak perlu ku lanjutkan pertanyaan-pertanyaan bodoh padamu lagi.
Bukankah semua telah jelas, bahwa luka yang kau ciptakan di hatiku setiap hari adalah bagian dari caramu untuk bahagia.
Kesempatan-kesempatan yang selalu ku beri,
Pemintaan-permintaan maaf yang selalu mendapat tempat,
Pintu-pintu hati yang selalu terbuka setelah kau tancapkan seribu luka,
Mungin takkan bisa kau temui lagi.
Karena kini aku benar-benar rapuh bagai kayu lapuk di kerumuni rayap.
Terimakasih untuk perjuanganya yang palsu.
Terimakasih untuk pernah hadir dengan kepolosan.
Pertunjukan sirkusmu keren, aku suka, tidak membuat ngantuk, hanya bikin nangis.
-Gee larasati-
08:43
Makassar, 09 Januari 2017
Inikah sinyal dari Tuhan bahwa kita benar-benar takkan menyatu?
Teruntuk kamu yang sedang bahagia menyakitiku,
Benarkah takkan adalagi satu waktu untuk kita memperbaiki keping-keping hati yang telah hancur berantakan?
Teruntuk kamu yang tidurnya pulas tanpa ucapan selamat tidur dariku,
mungkinkah ada yang salah dengan hubungan yang mati-matian kita perjuangkan bersama? Kita? ah, tidak.Hanya aku yang berjuang.
Teruntuk kamu yang biasa-biasa saja mendapat chat dariku,
Apakah ini ujung dari perasaan yang telah menikung tajam dan terbanting menabrak dan meluluh-lantahkan segalanya?
Teruntuk kamu yang hanya ingin di
perjuangkan tanpa ingin memperjuangkan,
Tidakkah kau rasa, seorang perempuan sedang mati-matian membunuh perasaannya padamu hingga dia pagi ini tengah berada di titik terendah dalam hidupnya?
Teruntuk kamu yang sedang bernafas tanpa rasa bersalah,
Apakah kamu tengah menunggu aku untuk undur diri dalam keterlibatan permainan konyolmu itu?
Teruntuk kamu yang sedang mengisap sepuntuk rokok pagi ini,
Mengapa kau tak datang menemuiku dan menjelaskan jika rasamu telah mati untukku?
Sudahlah, tak perlu ku lanjutkan pertanyaan-pertanyaan bodoh padamu lagi.
Bukankah semua telah jelas, bahwa luka yang kau ciptakan di hatiku setiap hari adalah bagian dari caramu untuk bahagia.
Kesempatan-kesempatan yang selalu ku beri,
Pemintaan-permintaan maaf yang selalu mendapat tempat,
Pintu-pintu hati yang selalu terbuka setelah kau tancapkan seribu luka,
Mungin takkan bisa kau temui lagi.
Karena kini aku benar-benar rapuh bagai kayu lapuk di kerumuni rayap.
Terimakasih untuk perjuanganya yang palsu.
Terimakasih untuk pernah hadir dengan kepolosan.
Pertunjukan sirkusmu keren, aku suka, tidak membuat ngantuk, hanya bikin nangis.
-Gee larasati-
08:43
Makassar, 09 Januari 2017

0 comments