Lampu Kota.
9:02 AMKamu tahu apa yang aku lihat di jalanan kota malam ini?
Para pengendara motor, orang-orang bermuka kosong, lampu-lampu kota, pepohonan yang malu, serta sepasang matamu, diantara hiruk pikuk kota malam ini.
Terkadang, aku membayangkan apa yang ada di pikiran mereka.
Kemana mereka akan pergi?
Apa yang mereka lakukan selarut ini?
Beberapa, ada yang masih bangun untuk menenangkan pikiran mereka.
Entah karena tugas, hutang, ataupun masalah lainnya.
Ada yang masih bangun untuk pulang.
Pulang ke rumah mereka, pulang kepada keluarga mereka, atau pulang ke sepasang lengan seseorang yang mereka cintai.
Ada yang masih bangun untuk bersenang-senang.
Ketika musik dimainkan, lampu setengah diredupkan, serta beberapa gelas minuman, dansa pun dilakukan.
Ada yang masih bangun untuk bekerja.
Entah karena deadline sudah satu jam lagi, bertemu dengan klien, ataupun mengumpulkan sampah, demi sesuap nasi untuk hari esok.
Ada yang masih bangun untuk belajar.
Meraih gelar professor dalam waktu dekat, menyelesaikan kuliah dengan cepat, belajar untuk masuk perguruan tinggi yang mereka inginkan.
Ada yang masih bangun untuk berdoa.
Islam, kristen, hindu, budha, ataupun agama lainnya.
Berdoa untuk hari esok yang lebih baik, untuk masa depan mereka, serta masa depan anak cucu mereka.
Ada yang masih bangun untuk merindu.
Saat aku menyusuri jalanan kota malam ini, aku teringat sepasang matamu diantara lampu-lampu kota.
Sepasang mata yang dingin, diam, membisu. Tetapi, aku bisa merasakan kehangatan dibaliknya.
Aku teringat senyummu saat melewati restoran cepat saji dimana kita pertama kali bertemu, setelah sekian lamanya.
Aku teringat punggungmu, suaramu, tanganmu, tawamu, dan segalanya tentang dirimu malam ini.
Seolah kau menawanku dengan senyummu.
Senyum yang tidak akan membiarkanku mengingat senyuman orang lain.
Kalau boleh jujur, bukan hanya malam ini saja.
Tetapi, malam-malam sebelumnya, dan malam-malam seterusnya.
Dasar, batinku pada diriku sendiri.
'Kau merindukannya. Apa dia melakukan hal yang sama kepadamu?' Otakku bertanya pada diriku, seolah mengejek aku adalah orang yang bodoh.
Ponselku bergetar dan muncul notifikasi pesan masuk.
'Lekaslah pulang'
Aku tersenyum.
'Terima kasih' ucapku, dalam diam.
Surabaya, diantara malam-malam dingin dimana aku merindukanmu.
Aisyah D.
0 comments