Teruntukmu, terimakasih.
10:06 AMJadi izinkan aku mengutarakan segala hal yang belum kamu mengerti saat ini, sebelum lebih jauh kau melangkah bersamanya.
Ini bukan perihal apapun yang telah ku berikan untukmu, bukan juga tentang perjuanganku yang bertujuan di satu titik tumpu, senyummu.
Namun ini tentang satu hal sebelum itu.
Terimakasih, kasih.
Karnamu aku mampu menulis sekian banyak sajak setelah bertahun-tahun aku meninggalkan hobiku itu.
Terimakasih, tupai.
Karnamu aku tidak malas untuk merawat gitarku lagi agar dapat menghiburmu, menciptakan lagu yang mungkin tidak seberapa indah itu hanya untuk bertujuan menenangkan hatimu, membuat harimu menjadi baik.
Terimakasih, omnivora.
Karnamu aku mau belajar untuk mencari tau resep-resep makanan kesukaanmu dan bagaimana cara membuatnya, hanya untuk menyiapkan siapa tau suatu hari nanti aku dapat bersamamu, menjadi apapun yang kamu inginkan, kemudian merawatmu disisa usiaku.
Terimakasih, sedeng.
Karnamu aku dapat merasakan bagaimana menyenangkannya berjuang untuk mendapat sesuatu yang aku ingini, setelah sekian lama aku tidak percaya atas apapun yang menarik perhatianku selainmu.
Terimakasih, cinta.
Karna hadirmu membuatku semakin ingin untuk segera mewujudkan mimpiku, memantaskan diri agar dapat berjalan disampingmu, menjagamu seutuhnya.
Terimakasih, kamu.
Karena telah menghidupkan kembali duniaku yang pernah mati.
Maaf atas panggilan yang ku buat seenaknya sendiri itu. Yang mungkin tidak akan kau dengar lagi setelah ini.
Dan untuk waktu yang telah kita lewati,
juga untuk senyummu selama ini,
Terimakasih karena telah mau membagikannya denganku.
Mencintaimu memang membutuhkan waktu lebih panjang dari senja. Dan seperti itu pula, aku hanyalah waktu yang singkat; bagimu.
Semoga dia adalah bahagiamu yang sebenarnya. Seperti kamu yang menjadi bahagiaku seutuhnya. Jadi ku mohon, berjanjilah kau akan berbahagia bagaimanapun caranya, karna aku tidak akan memaafkan dia yang membuat senyummu redup apalagi mati. Aku akan mencarinya, mencabut jantungnya, sebagaimana dia telah mengambil jantungku; kamu.
Satu lagi,
cukup dengarkan,
lalu kamu boleh meneruskan langkahmu.
Hanya sesederhana ini,
Bahwa,
Langkahku semakin lambat, namun tetap selangkah dibelakangmu. Memastikan kamu baik-baik saja saat berjalan beriringan bersamanya.
Undur diri, tuan.
Desember, diruangan pribadi.
Surabaya.
- Dan -
0 comments