Pembunuhan Sadis
9:03 AMBacok: bertubi-tubi, seperti daging
Dengan kamera, mata mati, melihat
Beruntunglah ia tidak merasa bising
Tapi tragedi tak terjadi sesaat
Bagaimana mereka menjadi setan
Saat menahu Tuhan membuat surga
Pada setiap zat yang berbuat baik?
Posisi mereka selalu di depan
Mereka dulu yang mengenalkan kita
Kepada Ridwan: diamlah. Kami tahi
Kita tidak berbincang tentang mayat
Sebelum fajar pada hari selasa
Empat orang tak ingin ikut melayat
Setelah berita buruk itu tiba
Lalu kita menonton acara komedi
Cak Lontong masih sangat menghibur
Sambil kita menyeduh sebungkus mie
Kita tertawa
Dan mengganti dengan channel yang lain.
Film Naruto terbaru sedang tayang
Kita meletakkan remote dan berhenti sesaat
Lalu iklan pun muncul
Suapan keempat masuk, kunyah dan telan, lalu kelima, kunyah dan telan, lalu keenam,
Adzan di masjid komplek berkumandang,
dan aku langsung berangkat ke masjid.
Iqamah dilantangkan. Aku mengambil tempat untuk shalat. Rakaat pertama dengan Al-Fatihah dan Al-Baqarah, seperti rakaat kedua. Lanjut rakaat ketiga, aku dan imam shalat membaca Al-Fatihah dengan samar. Tahiyat akhir selesai. Aku berdoa:
Ampunan dosaku.
Ampunan dosa orang tuaku.
Jodohku.
Karirku.
Seperangkat laptop untuk bermain The Elder Scrolls terbaru.
Mungkin PS4 untuk bermain The Last of Us kedua.
Amin.
Aku pulang. Mie instanku masih hangat. Iklan telah usai.
Depok, 2016
~sunan irsyad~
0 comments